Skip to main content
Provider yang Tepat





John 14:25-27 25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; 26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. 27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. 

Ketika kita mengambil keputusan untuk mengikut Yesus, sesungguhnya hidup kita bukan sendiri lagi. Meskipun secara fisik, Kristus tidak bersama dengan kita - Roh Kudus sesekali tidak pernah meninggalkan kita. Roh Kudus, Kristus, Allah Bapa adalah satu. 

Kristus hanya melakukan dan mengajarkan apa yang diperintahkan Bapa. Demikian juga Roh Kudus terikat dengan MOU Trinitas - hanya mengajarkan apa yang telah Yesus ajarkan.

Masalahnya: apakah kita lebih memilih berjalan sendiri, atau berjalan bersama Roh Tuhan? Berjalan menurut rancangan dan keinginan sendiri, atau selalu bergantung dan meminta petunjuk Tuhan sebelum melangkah? Atau memilih hidup yang dipimpin Roh?

Roh Kudus sebagai penolong, penghibur, pengajar (parakletos) akan memampukan kita untuk 'menangkap sinyal-sinyal dari Allah; connect dengan Allah dan memampukan kita untuk hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.' Tanpa Roh Kudus, antena kehidupan kita akan selalu didominasi oleh sinyal-sinyal dunia. Pilihlah provider yang sesuai untuk mendapatkan sinyal yang bagus dan pas. Roh Kudus jawabannya. 

Sementara kita berupaya melihat babak selanjutnya, Allah melihat keseluruhan perjalanan dari atas -- dan IA tahu jalan terbaik mana yang harus ditempuh. WS


While we strain to see over the next horizon, God sees the journey from above—and so knows the best way to proceed. - Wayne Stiles

http://www.youtube.com/

watch?v=9We-i6jzCwg

Comments

Popular posts from this blog

Kehendakku vs KehendakMu "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42) Mira adalah ukuran kebahagian yang diinginkan oleh banyak orang. Cantik, tamatan luar negeri, orang tua yang masih sehat dan cukup kaya. Usia masih tigapuluh lima , menikah dengan suami yang baik dengan karir yang mantap , dilengkapi dengan dua orang putri yang sehat dan pintar. P ersis di puncak ke hidupan ini, tiba-tiba suaminya, Hendra , divonis kanker tulang belakang. Tidak sampai setahun, ajal menjemput Hendra . Mira sang janda yang masih cukup muda ini harus menata kembali hidupnya tanpa suami. Belum setahun berselang, ayah Mira harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung dan ia pun tidak pernah kembali lagi ke rumah. Kembali Mira harus mengenakan kain kabungnya. Hanya beberapa bulan berselang, g ulungan awan k umulus kembali menyelimuti keluarga ini. Mira yang lincah dan cekatan, tiba-...
Cuma itu yang bisa saya lakukan, hanya kehadiran saja Saya jadi teringat: Musa meminta kepada Tuhan, " if your presence (kehadiran) does not go with us, do not send us from here " ( jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah menyuruh kami pergi dari tempat ini" (Kel 33:15) Kesibukan hidup menjadikan " kehadiran" menjadi sesuatu yg sulit kita berikan kepada orang lain, keluarga ( suami, istri, anak-anak, cucu2, atau orang tua) dan bahkan kepada Allah. Ironis, sama seperti Musa kita merindukan kehadiran Allah (hadiratNya) - kehadiran Roh Nya. Namun, apakah kita juga hadir di hadapanNya?  Ketika kita beribadah, baik sendiri maupun bersama-sama di gereja, apakah kita hadir di hadiratNya? secara jiwa, raga, hati, dan akal  budi? (Mar 12:30). Di hadapan orang-orang yang kita kasih? Ketika secara fisik kita hadir pun, perlu kita cek apakah Jiwa dan hati kita juga hadir di sana? Fenomena sekarang, ketika fisik sudah ...
The Theology of Giving PL THE The practice of unity in the early Church is most evident in the sharing of resources among the believers. The early Church existed to assist unfortunate people. Early believers cared for the poor both inside and outside the church. The Church was known as the organization of alms. Emperor Julian was impressed with the church’s charity work and imitated the Christian community by establishing many hostels in each city to help less fortunate town’s people and strangers. In the late first and early second century, almsgiving was regarded as equal to repentance from sin and considered better than fasting and prayer. In the church the rich and the poor lived together as one body. The rich supplied the poor with material needs, and the poor prayed for the rich. Regarding structure, the early Church was a house church, which implies “the church is the place for life” and is a house for human relationship (Pongudom 126-28). The principle of sharing resources refl...