Skip to main content
Songs of Joy
(Psalm 126, Luke 1:26-45—Preacher: Ps Paw Liang)
Psalm 126 is one of the Psalm of Ascent. The song reflects the joy of the captives b3eing brought back to Zion—to the House of the Lord. The joy of those who have been set free. Such a song may arise from our soul when we let Jesus set us free from sin. Joy sometimes may come in the form of laughter. But joy is more than laughter. Not all laughter will bring joy.
What kind of joy? The JOY of the Lord is something we RECEIVE, not we take, capture, or catch. For the Ancient Israel—Their freedom is a gift from God. The Lord is in control! We can only have this joy when we open our heart to welcome Him into our life--The presence of Christ brings us the joy of the Lord!
“For behold, when the sound of your greeting came to my ears, the baby in my womb leaped for joy,” said Elizabeth. The baby John leaped with joy. This joy is divine and we can’t make or clone it. The Joy of Christ is not just a good feeling or merely feeling positive or optimistic. It is not a man-made feeling. It is more than happiness. The Joy of Christ Joy is a serenity deep inside our soul that will not be disturbed by any life storms and challenges.  Joy is the assurance that God is in control of every detail of my life. Joy is the quiet confidence that ultimately everything is going to be alright. No matter what happen, we trust God is in control and He is able. Joy is the determined choice͟ to praise God is all situation.
How to receive Joy? The angel said to her, “Do not be afraid, Mary; you have found favor with God (v30). And Mary said, “Behold, I am the servant of the Lord; let it be to me according to your word.” (v38). Let’s learn from Mary: First, Mary is willing to give up her own will in order to follow God’s will; including to jeopardize her marriage. Second, Mary is humble. She knows who God is and who she is: Behold, I am the servant of the Lord. She knows God has the best interest of her. She may not fully understand what Gabriel has told her, but she trusts God and to put her life completely in God’s hands.  How about us? Being Christians or church members will not bring us joy.
How about us?  Being Christians or church members will not bring us joy. Only the presence of Christ will give us this divine joy.  Check your soul! Is the joy of Christ there? A joyful soul is a praising soul. Mary sings, ͞My soul magnifies the Lord, and my spirit rejoices in God my Savior. The fullness of Christ in us will compel us to break into joy, like Mary. Praises will come out naturally!

This Christmas, may we be open, be humble to receive His Joy. And may the Song of Joy continues to ring in our life, praising God, magnifying His Name! (PLT)

Comments

Popular posts from this blog

Elok Rupa vs Elok Hati

oleh: Pdt. Dr. The Paw Liang  Seandainya Musa tidak cantik….. Tuhan mendengar seruan dan tangisan bangsa Israel di Mesir. Tuhan berbelas kasihan dan memutuskan untuk menghentikan penderitaan mereka. IA merencanakan dan mempersiapkan rencananya, Musa dipakai untuk melepaskan bangsaNya. Apakah Musa dipilih dari sekian banyak bayi laki-laki yang lahir atau kah memang sudah direncanakan oleh Tuhan sebelum Musa lahir bahwa pemimpin ini akan lahir dari suku Lewi, dari keluarga Amran dan Yokhebed. Ketika Musa lahir, Alkitab mencatat, “Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. (Kel 2:2). Harun, abang Musa lahir sebelum Firaun mengeluarkan dekrit untuk membunuh bayi-bayi laki-laki Ibrani. Harun tiga tahun lebih tua dari Musa, adakah bayi lain yang lahir di antara mereka berdua? Tidak ada kepastian dalam hal ini. Namun sepertinya ada penekanan, “ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik …” tidak tega orang tuanya membunuhnya, maka disembunyikanlah bayi i...
Cuma itu yang bisa saya lakukan, hanya kehadiran saja Saya jadi teringat: Musa meminta kepada Tuhan, " if your presence (kehadiran) does not go with us, do not send us from here " ( jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah menyuruh kami pergi dari tempat ini" (Kel 33:15) Kesibukan hidup menjadikan " kehadiran" menjadi sesuatu yg sulit kita berikan kepada orang lain, keluarga ( suami, istri, anak-anak, cucu2, atau orang tua) dan bahkan kepada Allah. Ironis, sama seperti Musa kita merindukan kehadiran Allah (hadiratNya) - kehadiran Roh Nya. Namun, apakah kita juga hadir di hadapanNya?  Ketika kita beribadah, baik sendiri maupun bersama-sama di gereja, apakah kita hadir di hadiratNya? secara jiwa, raga, hati, dan akal  budi? (Mar 12:30). Di hadapan orang-orang yang kita kasih? Ketika secara fisik kita hadir pun, perlu kita cek apakah Jiwa dan hati kita juga hadir di sana? Fenomena sekarang, ketika fisik sudah ...
Kehendakku vs KehendakMu "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42) Mira adalah ukuran kebahagian yang diinginkan oleh banyak orang. Cantik, tamatan luar negeri, orang tua yang masih sehat dan cukup kaya. Usia masih tigapuluh lima , menikah dengan suami yang baik dengan karir yang mantap , dilengkapi dengan dua orang putri yang sehat dan pintar. P ersis di puncak ke hidupan ini, tiba-tiba suaminya, Hendra , divonis kanker tulang belakang. Tidak sampai setahun, ajal menjemput Hendra . Mira sang janda yang masih cukup muda ini harus menata kembali hidupnya tanpa suami. Belum setahun berselang, ayah Mira harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung dan ia pun tidak pernah kembali lagi ke rumah. Kembali Mira harus mengenakan kain kabungnya. Hanya beberapa bulan berselang, g ulungan awan k umulus kembali menyelimuti keluarga ini. Mira yang lincah dan cekatan, tiba-...