Skip to main content
Buah Roh - Kemurahan



Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

chrēstotēs ~ diterjemahkan sebagai "kemurahan" (kindness)  atinya baik, tulus, tidak berbahaya. Buah chrestotes ini tidak mengenal sifat yang jahat, kasar, atau pun licik. Buah kemurahan di sini adalah "baik hati" - "selalu berniat baik terhadap orang lain" - suka melakukan dan mengharapkan yang baik untuk orang lain.

Boleh dikatakan memiliki sikap yang tulus dan baik terhadap orang lain. Tidak mampu memikirkan apalagi benar-benar melakukan sesuatu yang mencelakakan orang lain.

Mereka yang hidup di dalam Roh selalu memiliki kepekaan. Ketika benak kita mulai  memikirkan hal-hal yang jahat terhadap orang lain, Roh akan segera menginsafkan kita. Ketika hati kita mulai memanas, dan mengharapkan-harapkan sesuatu yang buruk terjadi kepada orang yang tidak kita sukai atau orang yang pernah merugikan kita, Roh akan mengirimkan sinyal untuk mengingatkan kita. 

Chrestotes menjaga sikap hati kita. Selalu mengharapkan yang baik dan selalu berusaha yang terbaik untuk kesejahteraan orang lain, meskipun orang itu adalah musuh kita. Chrestotes sering tampak pada anak-anak yang masih polos dan bersahaja. Tidak heran Yesus mengingatkan murid-muridNya untuk belajar dari anak kecil. "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (Luk 18:16) 

Seiring dengan berjalan nya waktu, pengalaman hidup sering mencemari sikap polos ini dengan berbagai kepahitan dan kegetiran. Membuat kita enggan untuk dekat dengan orang lain, apalagi bermurah hati.

Tetapi setiap kita yang hidup di dalam Roh - mari jangan segan melepaskan segala pengalaman buruk ini. Biarkan Roh Kudus ini menawarkan segala kepahitan dan kegetiran dan menggantikannya dengan rasa manis dari anugerah Tuhan di hati kita. Kemurahan dari Tuhan yang mengalir di hati kita, itu lah yang akan membantu kita untuk bermurah hati kepada orang lain (PLT).

Comments

Popular posts from this blog

Kehendakku vs KehendakMu "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42) Mira adalah ukuran kebahagian yang diinginkan oleh banyak orang. Cantik, tamatan luar negeri, orang tua yang masih sehat dan cukup kaya. Usia masih tigapuluh lima , menikah dengan suami yang baik dengan karir yang mantap , dilengkapi dengan dua orang putri yang sehat dan pintar. P ersis di puncak ke hidupan ini, tiba-tiba suaminya, Hendra , divonis kanker tulang belakang. Tidak sampai setahun, ajal menjemput Hendra . Mira sang janda yang masih cukup muda ini harus menata kembali hidupnya tanpa suami. Belum setahun berselang, ayah Mira harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung dan ia pun tidak pernah kembali lagi ke rumah. Kembali Mira harus mengenakan kain kabungnya. Hanya beberapa bulan berselang, g ulungan awan k umulus kembali menyelimuti keluarga ini. Mira yang lincah dan cekatan, tiba-...
Cuma itu yang bisa saya lakukan, hanya kehadiran saja Saya jadi teringat: Musa meminta kepada Tuhan, " if your presence (kehadiran) does not go with us, do not send us from here " ( jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah menyuruh kami pergi dari tempat ini" (Kel 33:15) Kesibukan hidup menjadikan " kehadiran" menjadi sesuatu yg sulit kita berikan kepada orang lain, keluarga ( suami, istri, anak-anak, cucu2, atau orang tua) dan bahkan kepada Allah. Ironis, sama seperti Musa kita merindukan kehadiran Allah (hadiratNya) - kehadiran Roh Nya. Namun, apakah kita juga hadir di hadapanNya?  Ketika kita beribadah, baik sendiri maupun bersama-sama di gereja, apakah kita hadir di hadiratNya? secara jiwa, raga, hati, dan akal  budi? (Mar 12:30). Di hadapan orang-orang yang kita kasih? Ketika secara fisik kita hadir pun, perlu kita cek apakah Jiwa dan hati kita juga hadir di sana? Fenomena sekarang, ketika fisik sudah ...
The Theology of Giving PL THE The practice of unity in the early Church is most evident in the sharing of resources among the believers. The early Church existed to assist unfortunate people. Early believers cared for the poor both inside and outside the church. The Church was known as the organization of alms. Emperor Julian was impressed with the church’s charity work and imitated the Christian community by establishing many hostels in each city to help less fortunate town’s people and strangers. In the late first and early second century, almsgiving was regarded as equal to repentance from sin and considered better than fasting and prayer. In the church the rich and the poor lived together as one body. The rich supplied the poor with material needs, and the poor prayed for the rich. Regarding structure, the early Church was a house church, which implies “the church is the place for life” and is a house for human relationship (Pongudom 126-28). The principle of sharing resources refl...